Beranda > Uncategorized > MENGUAK PARADIGMA POSITIVISME DALAM SKRIPSI

MENGUAK PARADIGMA POSITIVISME DALAM SKRIPSI

MENGUAK PARADIGMA POSITIVISME DALAM SKRIPSI

”Pengaruh Popularitas Terhadap Pilihan Pemilih Pemula

(Fenomena Masuknya Artis dalam Politik)”

Oleh :

Nunung Dwi Nugroho

(09/288952/SP/23807)

JURUSAN POLITIK DAN PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2010

A. PENDAHULUAN

Sebagai seorang ilmuan sosial yang baik, apabila kita hendak meneliti suatu masalah atau dalam rangkaian pembuatan suatu karya tulis ilmiah, pastilah kita terlebih dahulu menentukan mazhab apa yang hendak kita gunakan dalam rangka menjadi pondasi dalam kita meneliti suatu masalah tersebut. Di dalam sejarah perkembangan ilmu-ilmu sosial, kita mengenal dua mazhab besar yang dianut oleh seorang ilmuan sosial, yaitu positivisme dan anti-positivisme, disamping adanya mazhab “tengah” yang mengakomodasi keduanya. Namun yang akan penulis perdalam dalam tulisan ini adalah mengenai mazhab positivisme yang dipakai oleh banyak ilmuan sosial sebagai pondasi keilmuan mereka.

Positivisme yang pada dasarnya merupakan suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktivitas yang berkenaan dengan metafisik ini, banyak dipakai sebagai landasan seorang ilmuan sosial yang hendak meneliti suatu masalah. Seperti yang dipakai dalam karya tulis ilmiah yang berupa paparan tulisan hasil penelitian sebagai syarat kelulusan dari jenjang Strata-1 yang dibuat oleh Rika Rubyanti ini. Penulis beranggapan bahwa peneliti memakai kerangka berpikir seorang positivis dalam skripsinya yang diberi judul “Pengaruh Popularitas Terhadap Pilihan Pemilih Pemula (Fenomena Masuknya Artis dalam Politik)” ini. Hal tersebut berdasarkan pada banyaknya bukti yang penulis peroleh dalam skripsi tersebut, yang menunjukkan bahwa peneliti adalah seorang positivis. Bukti-bukti yang berupa fakta-fakta kuat yang menjelaskan bahwa skripsi tersebut adalah sebuah hasil karya seorang penganut positivisme, penulis tuangkan dalam penjelasan dibawah, disertai dengan identitas lengkap mengenai skripsi tersebut dan deskripsi mendalam tentang karakteristik apa saja yang biasanya melekat pada karya-karya seorang positivis.

 

 

B. DESKRIPSI ISI SKRIPSI

Melihat fenomena maraknya selebritis yang “menceburkan diri” di dunia perpolitikan di Indonesia pada tahun-tahun belakangan ini, membuat peneliti tergelitik dan merasa perlu untuk membuat suatu penelitian yang berusaha membuktikan hipotesa yang ada selama ini. Pelibatan artis-artis sebagai calon anggota legislatif ini diyakini dapat mendulang suara yang lebih banyak dibanding dengan calon-calon non-artis lainnya.

Sejumlah dalil disampaikan oleh para petinggi partai, terkait alasan mereka merekrut para artis sebagai caleg maupun calon kepala daerah dalam pilkada. Seorang politisi, Soetrisno Bachir menegaskan bahwa prakarsa melibatkan para pesohor sebagai calon legislatif (caleg) salah satunya untuk meningkatkan perolehan suara, artis diyakini dapat mendulang suara lebih banyak daripada kader biasa.[1] Namun terbukti dari data yang diperoleh peneliti, bahwa jumlah suara yang didapat oleh artis pada pemilihan umum tahun 2004 yang pada awalnya hanya dijadikan sebagai voter gate, pada kenyataannya seakan terbantahkan. Kenyataannya, hanya 7 (tujuh) artis yang berhasil duduk sebagai anggota legislatif. Asumsi bahwa artis yang memiliki popularitas dapat menarik simpati voters untuk memberikan suaranya adalah fenomena yang menarik perhatian peneliti. Sehingga pada akhirnya peneliti mencoba mencari kebenaran, “Apakah popularitas itu benar-benar dapat mempengaruhi pilihan pemilih? Dan sejauh mana popularitas dapat mempengaruhi pilihannya?”. Itulah masalah pokok yang menjadi fokus pada penelitian kali ini.

Dipilihnya pemilih pemula sebagai fokus penelitian dikarenakan pemilih pemula memiliki potensi suara yang cukup besar dalam pemilu. Berdasarkan proyeksi dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2005, jumlah penduduk muda (usia dibawah 40 tahun) sekitar 95,7 juta jiwa pada tahun 2009, jumlah tersebut setara 61,5% dari 189 juta penduduk usia pemilih.[2] Disamping itu, dipilihnya pemula adalah karena pemikiran politiknya yang masih labil dalam menganalisis fenomena politik, dan ditakutkan hanya terjebak dalam kepopuleran figur semata.

Skripsi setebal 90 halaman yang mempunyai judul: “Pengaruh Popularitas Terhadap Pilihan Pemilih Pemula (Fenomena Masuknya Artis dalam Politik), Studi Kasus: Mahasiswa Departemen llmu Politik, FISIP USU, 2009” ini ditulis oleh seseorang bernama Rika Rubyanti, alumni Departemen (jurusan) Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara (USU), Medan. Rika telah dinyatakan lulus dan mendapat gelar sarjana ilmu politik (,S. IP.) pada tahun 2009. Rika adalah seorang mahasiswi perantauan yang berasal dari Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Rika aktif dalam organisasi IMADIP USU periode 2007/2008, dan IMATAPSEL (Ikatan Mahasiswa Tapanuli Selatan) USU.

Apabila kita tinjau dari sistematika penulisannya, skripsi yang cukup tebal ini terdiri dari empat (4) bab pokok, yaitu pendahuluan, deskripsi lokasi penelitian, analisis data, dan kesimpulan.

Bab I : Pendahuluan

Bab pertama ini terdiri dari: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, metodologi analisis data, dan sistematika penulisan. Penelitian yang dilakukan pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui apakah popularitas mempengaruhi pilihan politik pada pemilih pemula. Selain hal tersebut, diselidiki pula apakah lingkungan berpengaruh pada pola pikir pemilih pemula dalam menentukan pilihan politik mereka. Hipotesa awal dalam skripsi ini menyebutkan bahwa “Popularitas mempengaruhi pilihan pemilih pemula”.

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dimana penulis menggunakan metode survey dengan memberikan angket tertutup kepada para responden, dan selanjutnya data-data yang diperoleh dari survey tersebut dianalisis menggunakan penghitungan statistik hingga akhirnya mendapatkan angka yang dapat membuktikan apakah ada hubungan antara variabel bebas dan terikat.

Bab II : Deskripsi Lokasi Penelitian

Dalam bab kedua ini, diuraikan tentang keadaan daerah lokasi penelitian. Berisi pula deskripsi singkat mengenai Departemen Ilmu Politik USU, mahasiswa yang berstatus sebagai pemula, dan para mahasiswa yang dipilah secara acak yang diambil sebagai responden.

Penelitian ini diadakan di dalam lingkup mahasiswa Departemen (Jurusan) Ilmu Politik, FISIP USU, dengan pertimbangan bahwa mahasiswa politiklah yang berhubungan secara langsung dengan hal-hal berbau politik tersebut, dan mempertimbangkan ketajaman analisis pada mahasiswa Ilmu Politik yang pastinya lebih mendalam jika dibanding dengan mahasiswa jurusan lain dalam menganalisis fenomena politik.

Populasi yang diambil adalah para pemilih pemula, yaitu yang berusia 17-21 tahun, dan yang memenuhi kriteria tersebut adalah stambuk 2007 dan 2008. Sedangkan jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini diambil berdasarkan penggunaan rumus Tarayamane. Sedangkan teknik sampling menggunakan cara stratified random sampling (pengambilan sampel dengan cara acak berumpun), hingga diperoleh jumlah responden sebanyak 53 orang dari stambuk 2007 dan 2008.

Bab III : Analisis Data

Di dalam bab ini, dimuat perhitungan atau kalkulasi terhadap data-data yang diperoleh dari penyebaran angket terhadap responden yang telah ditentukan. Hal ini bertujuan untuk mendapat jawaban dari pertanyaan atau hipotesa yang digunakan dalam penelitian. Dengan analisis data ini, diharapkan pertanyaan yang menjadi rumusan masalah penelitian akan terjawab, dan hipotesa yang digunakan akan terlihat, dapat diterima atau tidak.

Data-data yang telah didapatkan oleh peneliti melalui jawaban responden saat diminta mengisi kuesioner selanjutnya dihitung secara sistematis berdasarkan penghitungan statistik. Faktor-faktor lain yang kemungkinan dapat mempengaruhi pilihan pemilih pemula juga diselidiki. Dalam bab ini disertai pula tabel, bagan, dan grafik yang berkaitan dengan hasil data yang diperoleh. Selanjutnya, penulis mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan dua cara, yaitu penelitian lapangan (pengumpulan data dengan menggunakan penyebaran angket tertutup) dan penelitian kepustakaan, dengan mempelajari buku-buku laporan penelitian, serta bahan-bahan lain. Adapun hal-hal yang dihasilkan setelah menganalisis data adalah:

1. Pengaruh popularitas terhadap pilihan

Setelah mengadakan penelitian di lapangan, maka diperoleh hasil penghitungan kumulatif dari X1, X2, dan Y yang ditorehkan peneliti dalam sebuah tabel hasil. Selanjutnya dihitung menggunakan rumus matematis berupa korelasi produk momen dengan melihat tiga variabel, yaitu variabel bebas 1 (mengenai popularitas), variabel bebas 2 (lingkungan sekitar, apakah itu berkaitan dengan rata-rata tingkat pendidikan, pekerjaan, pendidikan dan penghasilan orang tua, atau pengaruh partai politik di lingkungannya), dan variabel terikat (pilihan pemilih pemula).

Dari hasil penghitungan, diperoleh hasil bahwa semua variabel diterima. Dan pada penghitungan kedua, dilakukan penghitungan koefisien korelasi berganda untuk mengetahui apa hubungan antara ketiga variabel adalah signifikan. Hasilnya adalah bahwa hubungan ketiga variabel adalah signifikan, karena nilai “R” lebih besar dari nilai “r” tabel. Selanjutnya diadakan penghitungan korelasi determinasi untuk mengetahui berapa persen (%) variabel bebas mempengaruhi variabel terikat. Hasil penghitungan menunjukkan bahwa pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat sebesar 56%. Selebihnya, banyak faktor yang mempengaruhi perilaku pemilih, dan cara pandang yang dilakukanpun bermacam-macam.

2. Faktor lain yang mempengaruhi pilihan

  • Alasan utama menjatuhkan pilihan:

Mayoritas dari responden menjatuhkan pilihannya kepada calon kepala daerah berdasarkan visi misi yang dimiliki (86,8%), dan yang terendah adalah berdasar atas hubungan kekerabatan atau asal daerah (1,9%).

  • Hubungan jumlah partai dengan waktu penentuan pilihan

Jumlah partai di lingkungan responden juga menentukan pilihan pemilih pemula. Terbukti dari diagram yang ada, terlihat bahwa hubungan antara waktu dan tempat pemasangan atribut partai di lingkungan pemilih dengan kapan dan kepada siapa ia menjatuhkan pilihannya nanti dalam pemilu. Lama waktu juga berpengaruh dalam menentukan pilihan para pemilih pemula ini.

Bab IV : Penutup

Bab ini berisi kesimpulan yang peneliti dapatkan setelah melakukan serangkaian penelitian. Dalam bab ini kita juga dapat melihat hasil atau jawaban dari hipotesis yang dipakai. Bab ini juga bercerita mengenai faktor apa saja yang juga dapat mempengaruhi pilihan dari seorang pemilih pemula, khususnya bagi responden yang telah ditentukan.

Hingga setelah dihitung sedemikian rupa, peneliti dapat menyimpulkan bahwa popularitas seseorang dan kondisi lingkungan memang dapat mempengaruhi pilihan politik pemilih pemula. Namun tingkat pengaruhnya disini adalah pada tataran cukup, artinya adalah tidak begitu terpengaruh. Karena masih banyak faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku dari seorang pemilih. Sedangkan lingkungan juga berpengaruh dalam hal mempengaruhi pola pikir pemilih pemula dalam menentukan pilihan. Namun kondisi lingkungan disini mendapat hasil negatif, yang berarti pengaruh lingkungan bertolak belakang dengan pola pikir pemilih pemula dalam  menentukan pilihan. Berarti, semakin tinggi level pendidikan dan perekonomian seseorang, maka semakin mandiri-lah pemilih pemula tersebut dalam menentukan pilihan. Berarti bahwa lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar dapat berperan dalam menentukan perilaku pemilih pemula. Sedangkan level pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat adalah signifikan. Artinya variabel bebas mempengaruhi variabel terikat. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Afan Gaffar dalam pembahasan tinjauan pustaka, banyak pendekatan atau faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemilih. Tidak hanya lingkungan sekitar dan popularitas seseorang calon kandidat, namun masih banyak hal-hal lain yang mungkin mempengaruhi perilaku dari para pemilih.

 

C. SEKILAS TENTANG POSITIVISME

Dalam perkembangan ilmu sosial, ada dua mazhab besar yang dianut oleh ilmuan sosial, yaitu mazhab positivisme dan anti positivisme. Namun di samping itu, ada pula mazhab “campuran” yang diambil sebagai jalan tengah, yang mengambil karakteristik dari dua mazhab tersebut. Namun yang menjadi titik fokus penulis dalam bab ini adalah untuk membahas tentang apa yang dimaksud dengan mazhab positivisme, sejarah singkat dan apa saja yang menjadi ciri khas atau karakteristik dasar dari positivisme tersebut.

Positivisme digambarkan pada dasarnya sebagai suatu aliran dalam ilmu filsafat yang menyatakan bahwa ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktivitas yang berkenaan dengan metafisik, tidak mengenal akan adanya spekulasi, dan didasarkan pada data empiris.[3] Positivisme berasal dari kata “positive”, kata positif disini berarti “factual” yaitu sesuatu yang berdasarkan fakta. Positivisme mengutamakan pengalaman, berbeda dengan empirisme Inggris yang menerima subjektivitas sebegai sumber pengetahuan. Positivisme hanya mengandalkan fakta belaka.[4]

Secara umum boleh dikatakan bahwa akar sejarah pemikiran positivisme muncul pada masa Hume (1711-1776) dan Kant (1724-1804). Hume berpendapat pada permasalahan-permasalah ilmiah haruslah diuji melalui percobaan. Sementara Kant melaksanakan pendapat Hume ini dengan menyusun Critique of Pure Reason (kritik terhadap pemikiran murni). Selain itu, muncul pula Auguste Comte (1798-1857), seorang filsuf kebangsaan Perancis. Comte bermaksud memberi peringatan kepada para ilmuan akan perkembangan penting yang terjadi pada perjalanan ilmu ketika pemikiran manusia berali dari fase teologis, menuju fase metafisis, dan terakhir fase positif, dimana manusia telah membatasi diri pada fakta yang tersaji dan menetapkan hubungan antar fakta tersebut atas dasar observasi dan kemampuan rasio[5]. Dalam kuliah Metodologi Ilmu Politik, dijelaskan dengan gamblangnya, bahwa para positivis pada dasarnya beranggapan bahwa:

(1) kebenaran hanya dicek dari konfirmasi benyak orang,

(2) penelitian harus objektif, bisa diverifikasi oleh orang lain,

(3) banyaknya orang yang setuju atas klaim à kebenaran,

(4) para positivis dalam penelitiannya cenderung menggunakan metode kuantitatif, walaupun tidak mengharamkan pemakaian kualitatif à pertanyaan detail, lingkup sempit, dan lain-lain.

Dalam tulisannya mengenai positivisme, Afan Gaffar[6] (seturut dengan paparan yang dikemukakan oleh Von Wright) menjelaskan bahwasanya para penganut positivisme percaya bahwa:

a.       Semua ilmu atau semua kegiatan ilmiah (scientific endeavour) secara prinsip menggunakan metode atau prosedur kerja yang sama, sekalipun begitu banyak dan bervariasi objek yang digunakan sebagai bahan penelitian. Jadi metodologinya satu, sekalipun sasarannya berbeda sekali. Alasannya, yang menjadi tugas dari sebuah ilmu adalah memberikan explanasi dan prediksi, baik ilmu alamiah dan ilmu sosial mempunyai fungsi atau tugas yang sama.

b.      Metode kerja ilmu-ilmu alamiah adalah standar yang paling ideal dalam menjelaskan bagaimana ilmu bekerja dan berkembang. Sehingga ilmu sosial harus menggunakan metodologi dari ilmu-ilmu alamiah jikalau mau berkembang dengan benar dan cepat.

c.       Ekspalansi ilmiah harus bersifat kausal. Dengan kata lain harus menggambarkan hubungan sebab akibat antara penjelas dengan yang dijelaskan. Percaya tidak ada gejala, termasuk gejala sosial, yang bersifat isolative. Tidak percaya akan hal-hal yang bersifat kebetulan (accidental). Eksplanasi yang benar adalah yang mampu memberikan  jawaban yang pasti atau positif, seperti halnya dengan ilmu-ilmu ilmiah.

Pendapat lain yang hampir serupa dan berusaha melengkapi beberapa pandangan diatas mengatakan bahwa mazhab positivisme berusaha melembagakan pandangan dunia objetivistiknya dalam suatu doktrin kesatuan ilmu (unified science). Doktrin kesatuan ilmu mengatakan bahwa seluruh ilmu, baik ilmu alam maupun manusia, harus berada di bawah payung paradigma positivistik. Doktrin kesatuan ilmu mengajukan kriteria-kriteria bagi ilmu pengetahuan sebagai berikut [7]:

1.                  Bebas nilai, pengamat harus bebas dari kepentingan, nilai, emosi dalam mengamati objeknya agar diperoleh pengetahuan yang objektif

2.                  Ilmu pengetahuan harus menggunakan metode verifikasi-empiris

3.                  Bahasa yang digunakan harus analitik (bisa dibenarkan atau disahkan secara logis), bisa diperiksa secara empiris dan atau nonsens

4.                  Bersifat eksplanasi, ilmu pengetahuan hanya diperbolehkan melakukan penjelasan akan keteraturan yang ada di alam semesta, ia hanya menjawab pertanyaan how dan tidak menjawab pertanyaan why.

Positivisme menjadi dogma epistemik dengan mengklaim bahwa ilmu pengetahuan harus mengikuti doktrin unified science apabila ingin disebut ilmu pengetahuan ilmiah, bukan semata-mata pengetahuan sehari-hari praktis eksistensial. Suwardi Endrawara, seorang peneliti, menyatakan hal yang hampir serupa dengan paparan diatas. Beliau juga melihat positivistik sebagai berikut[8]:

1.                  Paham positivistik menolak dan menganggap kebenaran metafisik dan teologis, karena dianggap ringan dan kurang teruji.

2.                  Positivistik lebih ke usaha mencari fakta-fakta atau sebab-sebab terjadinya suatu fenomena secara objektif, terlepas dari pandangan pribadi yang bersifat subjektif.

3.                  Positivistik akan mengejar data yang terukur, teramati dan menggeneralisasi berdasarkan rerata, dan lain sebagainya.

4.                  Lebih menekankan pembahasan singkat dan menolak pembahasan yang penuh deskripsi cerita. Penulis harus membangun teori-teori atau konsep dasar yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Peneliti lebih banyak berpikir induktif.

5.                  Kebenaran diperoleh melalui hukum kausal dan korespondensi antar variabel yang diteliti. Karenanya, realitas dapat dikontrol dengan variabel lain. Peneliti juga menampilkan hipotesis berupa prediksi awal setelah membangun teori secara handal.

Disamping dari penjelasan dan ciri-ciri dari paham positivisme yang telah penulis paparkan diatas, dapat dijelaskan pula apa saja kelebihan dari paham positivisme tersebut[9], antara lain:

a.                   Dengan semangat positivisme, manusia terdorong untuk lebih bertindak aktif dan kreatif.

b.                  Bisa mendorong laju kemajuan di bidang fisik dan teknologi. Karena positivisme menganggap bahwa ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid, dan fakta-fakta saja yang mungkin dapat menjadi objek pengetahuan.

c.                   Bisa melahirkan model-model ilmu pengetahuan yang positif, lepas dari muatan spekulatif, dan hukum-hukumnya yang berlaku untuk segala-galanya.

d.                  Sangat diperlukan dalam usaha memahami implikasi penggunaan ilmu pengetahuan modern yang sangat penting bagi kehidupan.

Dari serangkaian penjelasan mengenai paham positivistik diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa secara garis besar, mazhab ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, yaitu :

(1) penekanan pada metode ilmiah,

(2) mendasarkan suatu pengetahuan atas prinsip verifikasi,

(3) penolakan terhadap metafisika,

(4) bebas nilai,

(5) menggunakan ilmu alamiah sebagai standar,

(6) eksplanasi ilmiah bersifat kausal,

(7) kebenaran dicek dari konfirmasi orang-orang,

(8) cenderung menggunakan metode kuantitatif.

Berangkat dari semua yang kita bicarakan diatas, para pengikut positivisme berpendapat bahwa agar filsafat terbebas dari metafisika, maka tugasnya harus dibatasi sekedar sebagai analisa bahasa. Sedangkan tafsiran terhadap apa yang terjadi di alam dan pada diri manusia diserahkan pada ilmu-ilmu eksakta (dalam arti yang luas)[10]. Walaupun tidak terlepas dari adanya kelemahan, namun penggunaan paham ini sangat luas di kalangan masyarakat, terutama untuk penelitian sosial, apalagi dengan penggunaan metode survey, angket, dan lain sebagainya.

 

D. MENGUAK POSITIVISME DALAM SKRIPSI

 

Aroma-aroma mazhab positivisme sudah sangat tercium saat penulis mulai melihat judul skripsi karya Rika Rubyanti ini. Dari judul “Pengaruh Popularitas Terhadap Pilihan Pemilih Pemula (Fenomena Masuknya Artis dalam Politik), Studi Kasus: Mahasiswa Departemen llmu Politik, FISIP USU, 2009”, sudah sangat terlihat jelas bahwa judul skripsi ini mencerminkan adanya hubungan kausalitas, yaitu adanya sebab-akibat antar variabel yang saling mempengaruhi. Popularitas mempengaruhi pilihan pemilih pemula. Hal ini sudah mencerminkan adanya aroma positivisme di skripsi tersebut. Sebenarnya penulis sempat ragu dan hampir terkecoh saat melihat ada kata ”studi kasus…”, ternyata kata tersebut diselipkan ‘hanya’ karena sang pembuat skripsi memakai mahasiswa Departemen Ilmu Politik, FISIP USU sebagai sampel dalam penelitiannya. Jadi menurut penulis hal itu bukan termasuk “studi kasus” yang biasa ditemui dalam metode kualitatif. Karakteristik paham positivisme berikutnya yang menonjol dalam skripsi tersebut antara lain:

  1. Penggunaan metode kuantitatif (survey) dalam skripsi

Dalam penelitiannya, peneliti mempergunakan metode kuantitatif, yaitu melalui metode survey, dengan tahapan pengumpulan data menyebarkan angket secara tertutup kepada para responden yang telah dibatasi populasi dan sampelnya. Sampai akhirnya diperoleh 119 orang yang berasal dari stambuk 2007 dan 2008. Hingga selanjutnya dianalisis menggunakan penghitungan matematis.

  1. Objektif / bebas nilai

Peneliti menggunakan data yang hanya didapatkan melalui fakta-fakta yang teramati dan terukur, maka data yang dihasilkan tersusun dan menjadi cermin dari realitas (korespondensi). Pada saat melakukan penelitian, terlebih saat melakukan survey, tentu peneliti tidak terlibat dalam pengisian angket, dan tidak melakukan hal-hal seperti intimidasi atau intervensi terhadap para responden.

Penggunaan data-data yang akurat dapat dilihat seperti pada data hasil perolehan suara para calon legislatif yang berasal dari kalangan selebritis pada pemilihan umum tahun 2004 (tabel 1.1), dan data mengenai mahasiswa stambuk 2007 (tabel II. 1, II. 2), tabulasi data hasil survey dari para responden, dan sebagainya. Dalam melakukan survey, peneliti juga tidak melibatkan dirinya dalam proses tersebut dalam menjaga keobyektifan penelitian tersebut.

  1. Kebenaran di-cek melalui konfirmasi dari banyak orang.

Setelah dilakukan penghitungan matematis pada data-data yang diperoleh, maka dihasilkan pembuktian hipotesa yang dalam hal ini melibatkan banyak orang yang berpartisipasi dalam pengisian angket, dimana mayoritas orang percaya bahwa popularitas dan lingkungan dapat mempengaruhi pilihan pemilih pemula. Dari penjabaran diatas, maka dapat diperoleh kesimpulan pula bahwa karya ini merupakan karya seorang positivis, karena mendasarkan suatu pengetahuan atas prinsip verifikasi terhadap banyak orang.

  1. Eksplanasi ilmiah bersifat kausal (sebab-akibat)

Penelitian ini sudah sangat menggambarkan bahwa adanya hubungan kausalitas yang saling mempengaruhi yaitu hubungan sebab-akibat antara popularitas (dan lingkungan) dengan pilihan politik pemula. Dipilihnya pemula sebagai fokus penelitian dikarenakan memiliki potensi suara yang besar dalam pemilu. Disamping itu, dipilihnya pemula adalah karena pemikiran politiknya yang masih labil dalam menganalisis fenomena politik, dan ditakutkan hanya terjebak dalam kepopuleran figur semata. Padahal tidak dapat dipungkiri bahwa kelak para pemuda inilah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan di Indonesia.

  1. Positivistik akan mengejar data yang terukur, teramati dan menggeneralisasi berdasarkan rerata, dan lain sebagainya.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan data-data yang terukur, valid, dan bisa diamati. seperti yang dapat kita lihat dalam data hasil pemilu 2004 para caleg selebritis (Tabel 1.1), jenis media massa yang sering diperhatikan oleh responden (Tabel 2. 12), presentase laki-laki dan perempuan padfa stambuk mahasiswa tahun 2007 (Tabel 2.1), dan lain sebagainya.

  1. Peneliti juga menampilkan hipotesis berupa prediksi awal setelah membangun teori secara handal.

Dapat dibaca pada bab pertama skripsi ini, penulis mencoba membangun teori tentang perilaku pemilih, perilaku politik, partisipasi politik, dan budaya popular. Dari berbagai teori yang disampaikan, maka penulis menarik sebuah hipotesis bahwa bahwa “Popularitas mempengaruhi pilihan pemilih pemula”.

  1. Penggunaan metode alamiah (eksakta) sebagai standar.

Pada penelitian ini, peneliti lebih dominan menggunakan metode eksak seperti yang tertuang dalam penggunaan rumus Tarayamane, yang digunakan saat pengambilan sampel, dan penggunaan rumus kasas koefisien Korelasi Product Moment dan penggunaan rumus Koefisien Determinasi untuk mengetahui berapa persen (%) variabel terikat dipengaruhi oleh variabel bebas dan Koefisien Korelasi Berganda untuk mengetahui apakah hubungan antar ketiga variabel adalah signifikan dalam teknik menganalisis data.

 

Dari fakta-fakta yang penulis kemukakan diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa skripsi karya Rika Rubyanti ini adalah hasil karya seorang penganut mazhab positivisme dalam karyanya. Dibuktikan dengan adanya (minimal) 7 (tujuh) bukti seperti yang telah penulis jelaskan diatas.

 

DAFTAR PUSTAKA

A.                PENELITIAN

Rubyanti, Rika. Pengaruh Popularitas Terhadap Pilihan Pemilih Pemula (Fenomena Masuknya Artis dalam Politik) Studi Kasus: Mahasiswa Departemen Ilmu Politik, FISIP, USU. Medan: Fisip USU Repository. 2009

 

B.                                         BUKU / REFERENSI LAIN

Endrawara, Suwardi. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2006

Gaffar, Afan. Dua Tradisi. S2 Politik Lokal dan Otonomi Daerah UGM. Yogyakarta

Gintings, Alfito Deannova. Selebritis Mendadak Politisi. Yogyakarta : Arti Bumi Intara. 2008

Kilmy, Masdaru. Makalah: Epistemologi Positivistik. IAIN (STAIN). Ponorogo, Jawa Timur

 

C.                                         WEBSITE

http://www.bps.go.id// ; didownload pada 02/10/2010 pukul 19.44 WIB

http://philosophisme.blogspot.com/2007/06/logical-positivisme.html/; didownload pada 02/10/2010 pukul 19.17 WIB

http://punyahari.blogspot.com/2010/01/filsafat-positivisme.html; didownload pada 02/10/2010 pukul 19.05 WIB

http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/03/31/positivisme-dan-perkembangannya/; didownload pada 02/10/2010 pukul 18.51 WIB

 


[1] Alfito Deannova Gintings, Selebritis Mendadak Politisi, (Yogyakarta: Arti Bumi Intara, 2008), halaman XIII

[3] Arif Wibowo, an academic staff of Social Welfare Department, University of Indonesia, http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/03/31/positivisme-dan-perkembangannya/

[4] Masdaru Kilmy, Makalah: Epistemologi Positivistik, IAIN (STAIN) Ponorogo, Jawa Timur

[6] Afan Gaffar, Dua Tradisi, (Yogyakarta:  S2 Politik Lokal dan Otonomi Daerah UGM) Halaman 3

[7] Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer; Sebuah Pengantar Komprehensif , hal 27-30 via http://punyahari.blogspot.com/2010/01/filsafat-positivisme.html

[8] Suwardi Endrawara, Metodologi Penelitian Kebudayaan, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006): halaman 37-39.

[9] Masdaru Kilmy, loc. cit.

Kategori:Uncategorized
  1. Januari 23, 2015 pukul 9:19 pm

    If payday is a Saturday or Sunday, you then will
    be compensated on the Friday, so arrange the direct debit for the Friday.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: